Sinar Migran

Sering dituduh mencuri dan diusir, BMI dapatkan HKD 26,500  hak ketenagakerjaan

Sejak finis kontrak tahun 2013, Tiara* pindah kerja pada majikan bernama Pong* di Wong Tai Sin.

Pekerjaannya biasa saja, seperti umumnya pekerja rumah tangga/PRT migran lainnya. Membersihkan rumah, belanja, masak, jaga orang tua.
Tiara tinggal bersama nenek, anak laki laki pertama nenek dan anak perempuan nenek yang ke empat usia kisaran 60 tahun. Keduanya tidak menikah. Dengan anak perempuan neneklah Tiara terikat kontrak kerja.

Yang menjadi tantangan besar justru majikannya sendiri. Tiara acapkali dituduh mencuri apabila ada barang barang majikan yang luput dari pandangan matanya. Mulai dari buku menjahit, perhiasan, tas, jam tangan dan lain lain. Majikan akan marah seharian dan ujungnya, menyuruh Tiara keluar rumah berjam jam. Tidak pandang musim panas atau musim dingin Tiara jadi pelampiasan.

Setahun pertama Tiara bertahan, barang barang yang pernah dinyatakan hilang tersebut ternyata ditemukan kembali, majikan tidak memberitahu tidak juga meminta maaf. Tiara ahirnya menyadari jika majikannya mempunyai ingatkan yang buruk dan mudah marah.

Karena desakan kebutuhan di tanah air, Tiara tetap meneruskan niat kerjanya. Pernah sekali dua kali ingin putus kontrak, namun pertimbangan untuk ganti majikan urung ketika ingat harus mengulang adaptasi dari awal ditambah lagi ancaman biaya agen yang tidak sedikit. Ditambah lagi, jika kontrak terputus ia hanya punya waktu dua minggu (two weeks rule) kemudian harus keluar Hong Kong.

Sampai suatu sore 20 Oktober 2018 lalu, Tiara bekerja seperti biasa, mengganti seprei, sarung slimut di kamar majikan.
Tiba tiba terdengar suara orang tandang. Tiara melihat sekilas, ada tiga polisi dan majikan diruang tamu.

Suara majikan terdengar sampai ke kamar.
Tiara sempat membatin, “kehilangan lagi, tapi kali ini tidak teriak marah marah dan mengusir namun langsung memanggil polisi”.

Sekitar sepuluh menit, tiara di panggil keruang tamu.
Satu polisi menjelaskan keluhan majikan soal kehilangan perhiasan.

“Cece, maaf ya saya mau tanya majikan kamu kehilangan perhiasan, kamu tahu dimana?”
“Maaf Pak, saya tidak tahu majikan kehilangan apa, bagaimana rupa dan warnanya”.

Saat itu Tiara disodori surat pernyataan bahwa mengijinkan polisi menggeledah barang barang miliknya. Tiara yang yakin tidak mencuri mau tandatangan dan pasrah dengan proses tersebut.
Setelah penggeledahan, perhiasan majikan tetap tidak ditemukan.

Majikan kemudian mendekat dan memegang pergelangan tangan kiri tiara dengan kedua tangannya. Lalu dipukulkan ke pundak Tiara.
Setelah itu dia sendiri membenturkan kepalanya ke dinding.
Dari kehilangan perhiasan, majikan menyebut barang barang lain telah “dicuri”.

Polisi mencoba menenangkan majikan agar berhenti membenturkan kepalanya. Kemudian menanyakan barang yang dikatakan berpindah tangan, seperti buku, tas kecil, baju, jaket.

Namun ketika ditanya kapan, dimana dan berapa harga ketika membeli, majikan tidak bisa menjawab.
Kemudian polisi menanyakan hal serupa kepada Tiara dan berhasil dia jawab, meski harga banyak lupa.
Polisi menyodorkan barang yang di klaim majikan kepada Tiara
“Ini barang barang milikmu” ujarnya.

Kepada Ms Pong polisi berpesan agar tidak terus terusan menuduh pembantunya karena bisa dituntut balik.
Nenek yang ada dirumah juga turut menenangkan dan meminta tidak perlu marah lagi ke Tiara.
Respon Ms Pong justru mengancam jika polisi dan ibunya tetap membela pembantu, ia akan terjun dari rumah. Ms Pong juga meminta agar Tiara diblacklist.

Melihat respon Ms Pong yang temperamental, Polisi lalu memanggil tiga kru lainnya untuk datang.

Selama jalannya penyelidikan berlangsung Tiara dikawal kemanapun pergi oleh 2 polisi perempuan, ke kamar mandi sekalipun.

Jam 6 sore baru semua diperjelas, Tiara dipecat hari itu juga. Selama berbenah, tidak ada yang luput dari pantauan polisi.
Kemudian 2 polisi mengantar Tiara pergi. Setelah menyerahkan kartu nama, polisi berpesan kalau kalau ada hal yang perlu ditanyakan dalam mengurus hak ketenagakerjaan atau hal lain, Tiara bisa menghubungi nomer tercantum. Kemudian meninggalkan Tiara di lobby apartemen sebelum ahirnya Tri salah satu DPP Movers – Relawan Mission menjemput.

Tiara Kemudian tinggal di shelter yang disediakan oleh Mission for Migrant Workers dan dibantu memproses penuntutan hak ketenagakerjaan dari sana.

Tiara mengadukan penuntutan ke Labour Relations Division/LRD di Trade and Industry Tower, 3 Concorde Road, Kowloon.
Is dijadwalkan bertemu majikan pada tanggal 26 November 2018.

Namun sebelum sampai jadwal tersebut, Agen Yuk Yin menelfon dan menyuruh Tiara untuk mengambil uang dalam bentuk check di rumah mantan majikannya.
Tiara menolak alasannya pertama Tiara tidak mau lagi kembali ke rumah mantan majikan, alasan kedua uang tidak sesuai dengan tuntutan, alasan ketiga uang dalam bentuk check pencairannya bisa saja menjadi lama.

16 November 2018 bertemu majikan.
Didepan pegawai Labour, majikan masih bertahan tidak mau memberi semua hak Tiara.
Ms Pong lalu memberi secarik kertas kepada pegawai tersebut, didalamnya berisi “tuduhan” kepada Tiara.

Namun dengan tenang Tiara menjelaskan duduk permasalahannya sejak tanggal 20 Oktober, tuduhan pencurian lain, kedatangan polisi, menolak mengangkat telfon dan memilih tidak ambil check. Lalu tiara menyodorkan kartu nama polisi.

“Ma’am bisa telfon nomer ini untuk memperjelas keterangan saya” ujarnya kemudian.

Petugas Labour ahirnya menutup pertemuan dengan pilihan pihak yang dirugikan akan banding atau memberikan semua hak Tiara.

Majikan tidak membantah lagi dan mau memberi hak ketenagakerjaan Tiara yaitu uang terminit, tiket, long service, cuti tahunan, gaji terahir, uang makan selama perjalanan pulang dan uang transpot lokal total sebesar HKD 26,500 disaksikan oleh pegawai Labour.

(vo)

* Nama disamarkan sesuai permintaan BMI yang bersangkutan
Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *