September 18, 2020

Sinar Migran

Media Informasi Pemberdayaan Buruh Migran

Penyiksa Adelina Sau, bebas dari tiang gantungan

Ambika MA Shan, 61, lolos dari tiang gantungan setelah Pengadilan Tinggi memberikan pembebasan penuh kepada majikan Adelina Sau tersebut.

Ambika dituduh melakukan berbagai kekerasan fisik dan mental menyebabkan hilangnya nyawa Adelina, buruh migran asal Indonesia 11 Februari 2018.

Selama bekerja pada Ambika, Adelina Jemira Sau, buruh migran asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur mengalami kondisi kerja penahanan yang sangat buruk dan mendapat kekerasan dari majikannya. Luka ditubuhnya berdarah dan bernanah. Akibat lukanya tersebut, Adelina dipaksa tidur di garasi bersama anjing Rottweiler milik majikannya.

Kondisi yang berlangsung selama 2 bulan membuat tetangga sebelah rumah ahirnya mengetahui keadaan Adelina. Tetangga itu kemudian memberi tahu seorang jurnalis di Facebook tentang kondisi tersebut. Anggota parlemen Bukit Mertajam, Steven Sim kemudian mengirim timnya untuk menyelidiki.
Ketika ditemukan, tubuh Adelina penuh luka-luka dan dia hampir tidak bisa berjalan.

Team penyelidik tersebut kemudian mendesak Ambika agar membawa Adelina ke Rumah Sakit. Setelah mendapat pemeriksaan awal, Adelina diketahui mengalami kegagalan banyak fungsi organ dan luka akibat penganiayaan. Sehari dirawat di rumah sakit Bukit Mertajam Adelina ahirnya meninggal.

Direktur eksekutif Tenaganita, Glorene A Das yang mengawal kasus Adelina sangat terkejut dengan keputusan pengadilan dan meminta Jaksa Agung menjelaskan duduk perkara tidak adanya keadilan yang berpihak pada Adelina, padahal bukti sudah sangat jelas.
“Dia adalah seorang wanita muda yang dipaksa bekerja selama dua tahun tanpa bayaran. Dia adalah seorang wanita muda yang tubuhnya mengalami kekerasan brutal”.

Kematiannya harus berarti sesuatu.
“Mengapa pengadilan kami mengecewakannya? Mengapa pemerintah Malaysia mengecewakannya? Di mana keadilan bagi Adelina? ”Dia bertanya dalam sebuah konferensi pers yang digelar begitu berita Ambika bebas tersebar.

Glorene mengatakan, keputusaan sidang sangat bertentangan dengan program pemerintah yang mengatakan “perang” terhadap perdagangan manusia dan kerja paksa. Tindakan tersebut jelas tidak menunjukkan keadilan bagi para korban seperti Adelina.

“Tenaganita bingung atas berita ini. Kita tidak bisa membayangkan kesedihan yang mendalam dari keluarga Adelina, ”katanya.

Setahun peringanan meninggalnya Adelina, 12 februari lalu, Tenaganita menyampaikan buruh migran tidak dilindungi seperti halnya pekerja di sektor lain sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan 1955 yang berlaku di Malaysia.

“Dampaknya, majikan cenderung merasa bebas menyiksa pekerjanya secara terus menerus tanpa takut berhadapan dengan hukum. Padahal perlakuan tersebut terkadang berakhir tragis seperti dalam kasus Adelina dan korban korban sebelumnya”.

Mengutip beberapa kasus kematian buruh migran, Glorene mengatakan itu karena majikan merasa seolah-olah memiliki pembantunya, sehingga mereka memperlakukan selayaknya budak.

“Kita sering mengetahui bahwa buruh migran tidak pernah diberikan hari libur per minggu, bersama dengan pelanggaran lain seperti menahan paspornya, pelecehan fisik, psikologis dan seksual”.

Glorene mengatakan ada sekitar 300.000 PRT migran di negara itu termasuk yang tidak berdokumen.
Tenaganita sendiri dalam lima tahun terahir telah menangani sekitar 2,000 kasus kekerasan dan perdagangan manusia. Pada tahun 2018 saja, Tenaganita menangani sekitar 200 kasus termasuk Adelina Sau.

Konsulat Jenderal Indonesia di Penang, Iwanshah Wibisono, yang menghadiri persidangan, sebelumnya mengatakan bahwa keluarga Adelina telah menerima gaji yang ditunggak sebesar RM69.300 dari mantan majikannya.

Sumber: free malaysia today, Tenaganita

Please follow and like us: