Sinar Migran

Menuju Hari Hak Asasi Manusia dan Hari Migran Sedunia, Berbagai Kalangan Tuntut Perlindungan Sejati Bagi Buruh Migran dan Keluarganya

Aksi foto poster peringati hari perlawanan terhadap hukuman mati, Kabar Bumi Cilacap


Indonesia-SM, Rabu (13/10/2021) Bertempat di ruang zoom KABAR BUMI gelar diskusi online guna peringati Hari Perlawanan Terhadap Hukuman Mati.

Acara yang Mengusung tema “Selamatkan Perempuan Migran dari Hukuman Mati”, dilatarbelakangi dari rentannya perempuan migran mengalami hukuman Mati, dan berbagai persoalan yang membuat perempuan sendiri rentan menjadi korban.

Selama berabad-abad, perempuan telah menghadapi kekerasan berbasis gender yang ekstensif (jangkauan luas- Red) dan dikondisikan dengan situasi kerja yang ekploitasi (pengambilan manfaat secara berlebih dan sewenang wenang- Red) dan tidak manusiawi. kekerasan seksual, fisik, psikis, ekonomi dan dieksploitasi menjadi kurir narkoba adalah situasi rentan dihadapi buruh migran.

Menjadi korban kekerasan dengan resiko kematian atau  menjadi korban kekerasan yang melawan dan menjadi terdakwa atau vonis hukuman mati adalah pilihan simalakama perempuan migran korban kekerasan.

Mary Jane dan Merri Utami adalah contoh pekerja migran perempuan yang saat ini sedang dihadapkan dengan bayang bayang eksekusi kematian.

Menurut M.Afif SH, Direktur LBH Masyarakat selaku pengacara Merri Utami dalam diskusi online mengatakan,
“Banyak ketidaktransparan dalam proses hukum Merri Utami, salah satunya tidak adanya salinan dokumen hasil putusan pengadilan yang bisa ia dapatkan, juga putuskan hakim yang dinilai subyektif, terkait kasus  perubahan nama Merri Utami. Juga kekerasan dan pelecehan seksual saat penyidikan,” imbuhnya.

Selain pengacara Merri Utami, hadir juga Kuasa Hukum Mary Jane, Agus Salim SH, MH  yang memaparkan update perkembangan kasus Marry Jane, yang hingga sampai saat ini status kehidupanya masih menunggu keadilan HAM yang seharusnya ia dapatkan, seperti yang tertera dalam Undang- undang Dasar Republik Indonesia pasal 28 A yang menyatakan “setiap orang berhak untuk hidup  serta setiap orang berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”.

Fitri Lestari dari Badan Pekerja Komnas Perempuan menjabarkan  dengan jelas bagaimana perempuan migran rentan  diekplorasi, menjadi korban kekerasan bebasis gender hingga menjadi  korban pelanggaran HAM dan pelanggaran atas hak Fair trail, serta trauma yang dihadapi korban.

“Selain bertentangan dengan HAM dan konstitusi RI UU 1945, hukuman mati juga berpotensi menyasar orang-orang tidak bersalah dan tidak memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan” (ucap Fitri)

Mengacu pada Hukum di Indonesia dan Internasional , hukuman  Mati juga bertentangan dengan  Undang-undang Dasar Republik Indonesia pasal 28 A dan 28 I ayat 1 dan 2 juga hasil Konvensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR), Konvensi menentang penyiksaan (CAT), Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) yang sudah diratifikasi Indonesia.

Iweng Karsiwen ketua Kabar Bumi menjelaskan, berbagai persoalan buruh migran dan keluarganya sampai menjadi korban perdagangan orang yang disistematiskan oleh pemerintah sendiri, menjadi koban kekerasan dan diskriminasi, pemerasan upah lewat potongan agen, hingga pembodohan melalui zero cost dan peraturan lainnya.

Iweng juga mengajak peserta diskusi ikut mendukung kampanye selamatkan  Mary Jane, Merri Utami dan seluruh perempuan migran  dari hukuman mati.

“Acara ini adalah serangkaian acara menuju hari HAM dan hari migran Internasional, untuk itu kami sangat berterima kasih atas partisipasi dan dukungan dari seluruh narasumber, team yang terlibat, seluruh peserta diskusi dan seluruh pendukung perjuangan buruh migran, jayalah perjuangan massa,” tegas Iweng.

Diakhir pemaparan dari berbagai narasumber, moderator Nazza sekertaris Kabar Bumi mempersilakan peserta untuk sesi tanya jawab. Sesi ini pun berlangsung dengan kritis dan interaktif. Acara yang diikuti oleh 150 peserta dari berbagai kalangan ditutup pukul 16.00  dengan yel yel seruan dan foto poster bersama bertulisakan tuntutan dihapuskannya hukuman mati, sediakan fasilitas kuasa hukum, translator, psikolog bagi buruh migran berkasus, berikan jaminan perlindungan dan kesejahteraan bagi buruh migran dan keluarganya, berikan hak hidup bagi Mary Jane, Merri Utami dan seluruh buruh migran lainnya, Hukum tegas pelaku perdagangan orang dan berikan mekanisme proses hukum yang transparan, hentikan ilusi Zero cost, wujudkan undang-undang buruh migran yang adil dan humanis.###


Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *