September 18, 2020

Sinar Migran

Media Informasi Pemberdayaan Buruh Migran

Karantina, ketakutan majikan dan kewarasan yang tetap harus aku jaga

Kisah ini berawal dari sebulan yang lalu. Saat tiba tiba saja aku sesak nafas tanpa kuketahui penyebabnya.

Getty images.

Beruntung aku paham hak dasar selama bekerja. Dalam keadaan sakit, tentu berhak mendapatkan pengobatan dan perawatan.

Lalu yang terlintas dalam pikiran, aku harus periksa ke dokter sesegera mungkin. Dan berharap tidak terjadi apa apa dengan saluran pernafasan atau tubuhku.
Maka tanpa pikir panjang kusampaikan juga  keluhanku ke majikan.

Niatku sebenarnya ingin periksa ke dokter biasa. Tapi tanpa dinyana, majikan langsung memanggil mobil ambulan dan aku dibawa ke rumah sakit tanpa bisa menolak.

Takut? tentu takut dan khawatir. Karena seumur-umur belum pernah aku naik mobil ambulan. Membayangkan saja tidak.

Begitu sampai rumah sakit, aku menjalani prosedur seperti halnya pasien lain. Mendaftar,  kemudian menunggu dipanggil untuk di periksa tekanan darah. Lalu aku disuruh menunggu lagi  sebelum ditanyai keluhan dan diperiksa dokter diruang lain.
Setelah itu aku harus tes urine dan ronsen yang hasilnya bisa dilihat tidak sampai sejam.

Sebelum selesai pemeriksaan, pihak rumah sakit memintaku esok harinya pagi pagi setelah bangun tidur untuk mengambil dahak sebelum gosok gigi makan atau minum.

Dan hari kedua, aku lakukan prosedur tersebut lalu mengantarnya ke rumah sakit. Kalau hasil dari dahak ini, baru bisa diberitahu setelah 3 hari.

Sejak pemeriksaan hari pertama, majikan memintaku tidak pulang kerumahnya. 3 hari yang ditunggu tidak juga ada kabar. Sampai aku datangi langsung ke rumah sakit dan bertanya pada suster. Suster memberikan penjelasan jika dalam 3 hari tidak ada pemberitahuan, maka tidak ada masalah denganku.

Dengan hasil kabar seperti itu, majikan masih belum yakin ahirnya aku diperiksa kan ke dokter lain dan kembali mengasingkan diri alias mengkarantina diri di penginapan sampai 6 hari.
Cukup membuat aku frustasi.

Bagaimana tidak, bayang bayang berhenti atau diberhentikan kerja ditengah semua kebutuhan meningkat dan situasi sulit seperti ini, bagi seorang buruh migran yang menjadi tulang punggung keluarga tentu sangat menguras pikiran.

Ditengah merebaknya pandemi Covid-19 di Hong Kong, frustasiku dan kekhawatiran majikan cukup beralasan. Apalagi sesak nafasku kali ini cukup berat. Jadi ya ku terima saja perlakuan majikan selama seminggu itu.  Yang penting biaya penginapan, makan sehari hari dijamin majikan. Aku mencoba tetap berfikir waras dalam menyikapi keadaan dan memanfaatkan waktu untuk istirahat total.

Hari ke tujuh setelah kembali ke rumah majikan, aku baru mendapat hasil dari rumah sakit via SMS hasilnya negatif.

Selidik punya selidik, majikan sangat ketakutan jika aku terjangkit COVID-19.

Setelah kejadian itu sebulan lamanya aku dilarang untuk libur keluar rumah. Tidak sukanya sakitku waktu lalu dijadikan senjata oleh majikan untuk semakin melarangku libur di luar rumah.

Jika Aku minta libur, ia selalu menyalahkanku bahwa sesak nafas yang aku alami karena  tidak menuruti perintahnya, dilarang libur tapi masih saja ngeyel pergi libur keluar.

Majikan memang sudah sering memintaku untuk tidak libur, bahkan  sebelum muncul  Covid-19, tapi aku masih bisa menolak pada saat itu. Saat ini, membuat posisiku sulit.

Ketika mau menolak perintah majikan dan melawan, resikonya adalah diputus kontrak. Di situasi seperti sekarang ini, mencari majikan lagi bukan hal yang mudah, ada beberapa hal menjadi pertimbangan.

Memutus kontrak, itu artinya harus keluar Hong Kong. Saat ini untuk keluar Hong Kong pun tidaklah mudah, penerbangan semakin jarang, dan belum tentu boleh masuk ke wilayah lain dengan mudah.

Meskipun imigrasi memberikan perpanjangan izin tinggal, namun itu juga bukan jaminan untuk bisa mendapat majikan sekaligus menunggu visa sampai turun.

Sekali lagi tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan majikan untuk tetap dirumah pada saat hari libur.
Lalu apakah setiap harinya aku benar-benar tidak keluar rumah ?

Aku tetap pergi ke pasar bersama nenek. Meski jadwalnya berubah yang tadinya setiap sore aku membeli roti, sekarang menjadi dua hari sekali dan itupun juga harus bersama nenek, aku tidak diberi waktu untuk keluar sendiri.

Minggu lalu, aku mencoba  meminta ijin untuk membeli makanan diluar, pun tidak dikasih dengan alasan makanan diluar tidak bersih, lalu mengancamku, tidak akan memperdulikanku jika aku sakit lagi. Apakah makanan yang disediakan di rumah dijamin sehat ? sementara yang disediakan oleh majikan hanya mie instan.

Pernah lagi aku meminta izin untuk membeli pembalut, juga tidak diizinkan keluar sendiri, diberikan aku beberapa helai pembalut milik cucunya, baru sore harinya aku diantar nenek untuk membeli pembalut.

Dan sekarang harus berdiam diri di rumah tentu membuat tambah tertekan dan stres. Tidak cukup menghibur diri dengan menyanyi dikamar atau membaca buku.

Sebagai manusia yang butuh bersosialisasi dan juga berbagi, aku merindukan masa masa libur berkumpul dengan teman teman di organisasi dan teman teman lainnya.
Tempat dimana melepas kepenatan, berekspresi, mempercantik diri, tertawa lepas bersama setelah 6 hari lelah bekerja.

5 tahun menjadi anggota organisasi, dan selama 5 tahun pula hampir seluruh waktu libur aku habiskan untuk kegiatan organisasi, sebab disana aku bisa melakukan banyak hal positif,  menyampaikan informasi kepada teman-teman buruh migran, memberikan pelayanan, dan belajar pada alam.

Dan kegiatan-kegiatan itu membuatku lebih bersemangat. Selayaknya mengkonsumsi  vitamin, bila esok hari tiba pikiran menjadi lebih fresh dan semangat untuk bekerja kembali.

Lewat tulisan ini, aku ingin berbagi semangat kepada teman-teman yang lain baik yang aku kenal secara langsung atau hanya di media sosial. Bahwa kita tidak sendiri, kita sama. Aku yakin ribuan buruh migran di Hong Kong juga mengalami hal yang sama meski dengan kadar yang berbeda.

Pesanku jangan mudah putus asa, dalam keadaan apapun jangan pernah mengambil keputusan yang konyol. Cari teman untuk berbagi, untuk ngobrol via online supaya beban mental itu berkurang.

Dan bergabunglah dengan organisasi, ini penting. Supaya mengenal lebih dekat apa hak dasar buruh migran di Hong Kong. Ketika ada persoalan terkait kondisi kerja, atau yang berkaitan dengan ketenagakerjaan lainnya, menjadi paham bagaimana menyikapi.

Kisah nyata dari : Aluh

(Aluh, vo).

Please follow and like us: