Sinar Migran

Fitriyah bersaksi untuk dirinya sendiri dan PRT Myanmar atas kekerasan yang dilakukan mantan majikannya

Fitriyah bersaksi untuk dirinya sendiri dan PRT Myanmar atas kekerasan yang dilakukan mantan majikannya

Fitriyah dihadirkan ke depan pengadilan untuk memberi kesaksian atas kekerasan yang dialami PRT migran berkewarganegaraan Myanmar, Moe Moe Than (31) dan juga dirinya.

Dia dan Than bekerja untuk keluarga Tay Wee Kiat (41) dan istrinya Chia Yun Ling (43) di flat lima kamar di Yishun Singapura dengan tiga anak mereka, yang saat itu berusia satu, tiga, dan tujuh tahun.

Tay dan Chia dinyatakan bersalah dan dihukum atas 6 dan 15 dakwaan dua tahun lalu karena menyiksa Fitriyah, pembantu rumah tangga Indonesia. Kekerasan tersebut banyak dilakukan pada tahun 2012.

Senin (04/03/2019) mereka menghadapi dakwaan tambahan karena melakukan kekerasan pada Moe Moe Than, pembantunya yang lainnya.

Selama persidangan, pengadilan memperdengarkan bahwa Than ditampar dan dicambuk. Tidur kurang dari enam jam sehari dan kebanyakan makan hanya nasi atau dicampur dengan gula.

Ketika Than mengeluh bahwa dia merasa tidak cukup makan, dia lalu dipaksa makan nasi dan gula yang dituang menggunakan corong langsung ke mulutnya.

Saat berlari ke toilet karena tersedak, Chia menyuruhnya memuntahkan ke dalam plastik dan memakannya lagi.

Than hanya diperbolehkan menggunakan toilet tiga kali sehari dengan alasan agar tidak membuang-buang air.
Jika dia ketahuan menggunakannya lebih sering, dia dihukum dengan cara melompat lompat seperti kelinci.

Than bekerja untuk mereka dari 8 Januari 2011 hingga 12 November 2012. Sementara Fitriyah bekerja antara Desember 2010 sampai Desember 2012.

Than harus bangun jam 5.30 pagi setiap hari dan pergi tidur setelah lewat tengah malam.
Gaji Than sebesar $S 400, ditambah $S 20 sebagai ganti karena tidak libur, ditahan selama dia bekerja.

Hakim Distrik Olivia Low mengatakan dia yakin bahwa pihak penuntut membuktikan tanpa keraguan bahwa Chia menampar Than pada empat kesempatan.

Suatu kali, Chia menamparnya karena secara tidak sengaja menjatuhkan bayi yang dijaganya ke lantai saat dia merasa lelah dan mengantuk.

Selama persidangan, Chia membantahnya. Tetapi hakim mengatakan, dia melihat Than memaparkan langsung ke intinya dan menceritakan kembali kejadian itu.

Than bersaksi bahwa dia juga harus memijat kaki Chia setiap malam sampai dia puas, dan ini biasanya berlangsung sampai larut malam.

Pada kesempatan lain, dia tertidur dan Chia mengambil tongkat di dekat bantal dan memukul kepalanya, sambil berkata: “Kamu mengantuk? Kamu harus terus memijat.”

Fitriyah, yang kembali ke Singapura untuk memberikan kesaksian di persidangan, mengatakan ia melihat Chia mencambuk kepala Than.

Chia membantahnya, mengklaim bahwa Than menawarkan diri memijat. Chia hanya akan menggerakkan kakinya agar Than terbangun dari tidur.

Peristiwa dengan nasi dan gula juga dikuatkan oleh Fitriyah, yang uraian bentuk corongnya sama persis dengan penjelasan Than.

Sementara suami Chia, Tay bersalah atas 6 dakwaan. Diantaranya memerintah Fitriyah dan Than menampar satu sama lain sebanyak 10 kali.

Tay juga mencambuk tangan serta memukul pantatnya dengan sapu dan kait pakaian logam karena bangun terlambat. Dia juga mencambuk kepala kedua pembantunya itu.

Suatu kali, Fitriyah dan Than dipaksa menyembah altar Buddha 100 kali, meskipun Than adalah Kristen dan Fitriyah adalah Muslim sebagai hukuman karena memindahkan kain di dekat altar tanpa ijin.
Tay juga memaksa keduanya mengambil posisi push-up kemudian menendangnya.

Than meminta bantuan dari Agen Myanmar pada November 2012 setelah dipulangkan. Kemudian ditindak lanjuti oleh petugas Departemen Tenaga Kerja.

Setelah diperiksa di Rumah Sakit Khoo Teck Puat sebulan kemudian, ditemukan beberapa bekas luka lama di lengan, pergelangan tangan, pinggul, di kepalanya.

Karena melakukan kekerasan terhadap Fitriyah, Tay sebelumnya dijatuhi hukuman penjara 28 bulan, sementara istrinya dijatuhi hukuman penjara 2 bulan.

Dengan perkembangan kasus yang dialami Than, hukuman Tay ditingkatkan menjadi 43 bulan.
Namun ketentuan ahir akan diputuskan dalam persidanganan 18 maret mendatang.

Sumber: CNA

(Vo)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *