September 24, 2020

Sinar Migran

Media Informasi Pemberdayaan Buruh Migran

BURUH MIGRAN NOBAR ONLINE DI TENGAH PANDEMI COVID-19

NOBAR BERSAMA DANDHY LAKSONO DAN SUTRADA FILM “KERJA PRA KERJA DI KERJAI”

Selasa 1 Agustus 2020, Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI), Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI), Indonesian Family Network (IFN-Singapura), Ganas Community Taiwan, dan International Migrant Alliance (IMA) telah menyelenggarakan acara nonton bareng (NOBAR) Film Dokumenter yang berjudul “KERJA, PRAKERJA, DIKERJAI” karya team WatchdoC Documentary. Acara tersebut mengusung sebuah tema “Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Buruh Migran dan Lapangan Kerja di Indonesia”, dengan menghadirkan dua narasumber yaitu Sindy Febriyani selaku Sutradara film “KERJA, PRAKERJA, DIKERJAI”, serta Dandhy Laksono yang merupakan seorang Jurnalis dan Co-Founder WatchdoC Documentary.

Acara NOBAR tersebut di moderatori oleh Erwiana Sulistyaningsih (KABAR BUMI) telah berlangsung dari pukul 20:30 hingga 22:30 WIB. NOBAR online ini diikuti sebanyak 95 peserta yang tergabung dalam ZOOM, yang diantaranya adalah buruh migran, mantan migran, keluarga migran, serta rekan-rekan pendukung migran yang berada di Taiwan, Singapura, Hong Kong, Macau, Indonesia, dan negara lainnya. Selain itu, NOBAR online juga di unggah dalam Facebook live streaming di akun Fanspage JBMI dan telah ditonton oleh 3,8K penonton.

NOBAR dibuka dengan sambutan dari Iwenk Karsiwen selaku Ketua KABAR BUMI dan juru bicara JBMI yang menjelaskan tentang kondisi umum buruh migran di tengah pandemi Covid-19 dan kemudian acara dilanjutkan dengan Nonton Bareng film “KERJA, PRAKERJA, DIKERJAI” selama 53 menit durasi. Setelah selesai menonton, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Narasumber.

Sindy Febriyani sebagai Sutradara Film, menyampaikan terkait permasalahan banyaknya pekerja yang di PHK di Indonesia dan kartu Pra Kerja sebagai solusi yang diberikan oleh pemerintah untuk mengatasi pengangguran yang melatarbelakangi pembuatan film. Dalam paparannya, Sindy menyampaikan disaat pandemi Covid-19, Para Dewan pemerintah yang seharusnya mewakili rakyat bukan mengurus rakyat akan tetapi malah sibuk mengurus Omnibus Law (UU cipta kerja) dan ditambah lagi mengesahkan UU Minerba. Aturan yang katanya digadang-gadang memberikan solusi dari masalah pengangguran, ternyata aturan tersebut sangat merugikan pekerja dan rakyat Indonesia pada umumnya. Sindy juga menyampaikan sektor terbesar di Indonesia adalah pertanian dan perhutanan, namun pemerintah malah menggusurnya. Melalui film tersebut, Sindy juga mencoba untuk memberikan solusi untuk bertahan hidup di masa pandemi dengan kembali ke basic/ dasar yaitu (sawah dan hutan).

Pembicara kedua yaitu Dandhy Laksono seorang jurnalis dan Co-Founder WatchdoC menyampaikan bahwa tidak masuk akal jika rakyat Indonesia tidak bisa bertahan dalam masa pandemi karena alam Indonesia yang sangat kaya. Dandhy juga menegaskan terkait Omnibus Law yang menurut pemerintah merupakan UU yang dapat menciptakan lapangan kerja, akan tetapi UU tersebut ternyata sangat merugikan rakyat. Omnibus Law mempermudah investasi, memperlonggar aturan-aturan seperti pekerja tidak akan pernah bisa diangkat sebagai pekerja tetap (status kontrak), tidak ada lagi pesangon, dll.

Dandhy menegaskan 3 point penting masa depan rakyat pekerja yaitu: 1) Rakyat yang sudah bekerja tentu menjadi turun kesejahteraannya karena aturan Omnibus Law, 2) sektor yang sudah bekerja di luar sektor buruh (petani, nelayan, masyarakat adat) lebih susah hidupnya karena sumber penghidupan mereka di gusur untuk pendirian tambang, sementara mereka tidak punya ijasah untuk melamar pekerjaan, 3) Untuk sector yang belum bekerja (calon tenaga kerja), ini adalah lapangan pekerjaan yang lapangan pekerjaan yang standar kerjanya buruk.

Terakhir, Dandhy menjelaskan bahwa UU Omnibus Law lebih mengutamakan investor daripada penghidupan rakyat. Investasi tidak selalu sama dengan penyerapan tenaga kerja, penemuan teknologi telah menggantikan tenaga manusia. Peran manusia tidak lagi relevan karena semua telah digantikan oleh mesin dan komputer. Dandhy menegaskan bahwa tidak benar jika investasi dapat membuka lapangan kerja. Film menunjukkan kondisi nyata bahwa sebelumnya dengan Indonesia dengan kekayaan alam (sawah, hutan, lautan) semua masyarakat bisa hidup dengan gratis, namun sekarang rakyat harus membelinya.

Usai penyampaian paparan dari kedua narasumber, kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab yang disampaikan oleh peserta diskusi melalui room Chat ZOOM. Kemudian Acara dilanjutkan dengan penyampaian pidato oleh Sringatin Koordinator JBMI dan Ketua IMWU Hong Kong menyampaikan apresiasinya kepada para pembicara serta mengajak buruh migran untuk terus mempertahankan hak kita yang telah di rampas oleh PT, Agen, bahkan Pemerintah itu sendiri. Selain itu, Sringatin juga mengajak buruh migran untuk belajar, membuka diri, dan berorganisasi serta menuntut pemerintah untuk mencabut Undang-undang yang merugikan rakyat seperti Omnibus Law, mengesahkan RUU PRT, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, dan juga untuk menciptakan lapangan kerja di Indonesia. Acara ditutup dengan foto bersama dengan mengangkat tuntutan masing-masing oleh peserta ZOOM. ###

Please follow and like us: