September 18, 2020

Sinar Migran

Media Informasi Pemberdayaan Buruh Migran

Baby Jane Allas yang memenangkan ganti rugi HK$ 30,000, ajak buruh migran lain bicara jika haknya dilanggar

Penyelesaian kasus Baby Jane Allas (38) di Pengadilan perburuhan di Hong Kong pada hari Senin (15/04/2019) menyisakan kekecewaan.
Allas merasa kecewa sebab majikannya tidak hadir dan dirinya harus menjadwal ulang jadwal radioterapi sebab bertepatan dengan jadwal sidang. Selain itu, Allas mengatakan tidak puas dengan jalan penyelesaian sidang meskipun pada ahirnya keputusaan sidang ia terima.

Sesi pertama dari persidangan baik Allas maupun pendukungnya merasa muak lantaran sikap Kepala Pejabat Eric Tam dalam memimpin sidang. Tam mendorong Allas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak sepenuhnya ia pahami, meskipun penerjemah duduk di sebelahnya. Tam juga tidak segan meninggikan suaranya, dan hanya menurunkan nadanya setelah masyarakat yang hadir menyela dalam sesi tersebut.

Saudari Allas, Mary Ann, menggambarkan persidangan sebagai hal yang”mengecewakan” dan mengatakan bahwa cara saudarinya diperlakukan juga merupakan “bentuk diskriminasi.”

“Sesi dengar pendapat Baby Jane hari ini di Pengadilan Buruh berjalan sangat buruk,” kata Jessica Cutrera, seorang advokat yang membantu Allas dan meluncurkan kampanye penggalangan dana untuk mendukung pengobatannya.

“Hakim dengan kasarnya membentak, dia tidak siap untuk kasus ini dan mendorong Allas menjelaskan kasusnya lebih jelas yang tidak bisa dia lakukan.”

Allas, orang tua tunggal dari lima anak ini mengatakan kepada pengadilan bahwa dia tidak memiliki tempat tidur yang layak dan majikannya tidak menyediakan cukup makanan.

“Mereka membiarkan saya tidur di gudang di bawah tangga, tempat penyimpanan barang di siang hari,” katanya.

Allas juga tidak mendapat istirahat penuh ketika hari libur selama 15 bulan masa kerjanya. “Saya bangun dan bersih bersih dulu, mengajak jalan dan memberi makan anjing. Dan saya harus pulang antara jam 8 sampai jam 8.20 malam hari karena mereka mengadakan pertemuan keluarga setiap akhir pekan, ”kata Allas.

Tam berkata, “Tapi Anda memang sering keluar rumah … Setiap pembantu rumah tangga harus kembali jam 8 malam, jam 9 malam atau jam 10 malam.”

Kehadiran Jamil Bushra, majikan Allas diwakili oleh saudara iparnya. Bushra mengatakan tidak bisa hadir di persidangan dengan alasan karena dia hamil dan diberitahu untuk tidak bepergian – meskipun dia saat ini berada di Hong Kong.

Ipar Bushra mengatakan “Kami memiliki hubungan yang sangat baik … Saya bersimpati dengan kasusnya dan apa yang terjadi padanya sangat disayangkan,” .

Tetapi dia bersikeras bahwa keluarganya membutuhkan pekerja rumah tangga yang sehat. Namun dia menolak untuk berkomentar lebih lanjut dan tidak mengungkapkan namanya.

Allas awalnya meminta kompensasi HK $ 46.000 untuk biaya medis, cuti sakit dan upah sebagai pengganti pemberitahuan pemecatan, tetapi ia akhirnya ditawari HK $ 40.000 jika ia setuju untuk membatalkan klaim diskriminasi – kasus terpisah – atau sekitar HK $ 28.000 jika dia menolak membatalkan.
Kedua pihak akhirnya menetapkan angka HK $ 30.000 setelah hampir tiga jam di pengadilan.

Harapan terahir Allas yaitu klaim yang ia ajukan ke Komisi Persamaan Kesempatan, di mana ia berpendapat bahwa mendiskriminasi seseorang yang cacat adalah ilegal. Keputusan tentang klaim itu belum dibuat. “Ini bukan hanya tentang uang, ini tentang apa yang mereka lakukan pada kita,” kata Mary Ann.

“Saya berdiri di sini sekarang untuk mendorong PRT migran lain untuk bersuara jika mereka memiliki kasus seperti milik saya,” kata Allas.

“Dan saya menghimbau, jika mereka tidak diperlakukan dengan baik, mereka harus bersuara dan mencari bukti.”

Allas memiliki kanker serviks stadium tiga dan telah menjalani sesi radioterapi setiap hari serta kemoterapi seminggu sekali.

Berita pemecatan Allas pertama kali terungkap awal Maret, menambah deretan jumlah PRT migran dipecat dan dipulangkan karena di diagnosis dengan penyakit serius dan sering dibiarkan tanpa akses perawatan medis.

Sumber: South China Morning Post

Please follow and like us: