Sinar Migran

Lawan Eksploitasi dan Perbudakan Modern! Solidaritas Untuk Hak dan Martabat Perempuan! Bangkit, Melawan dan Bersatu

One Billion Rising Revolution 2019
Solidaritas di Hong Kong

Hong Kong (19/02/0/2019) Ratusan Perempuan migran, warga lokal dan jaringannya bergabung dalam acara tahunan One Billion Rising Minggu, 17 Februari.

Bertema “Lawan Eksploitasi dan Perbudakan Modern! Solidaritas Untuk Hak dan Martabat Perempuan!
Bangkit, Melawan dan Bersatu peserta menari mengikuti irama lagu OBR yang dinamis dengan tujuan dapat menggaungkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang adanya eksploitasi dan perbudakan perempuan yang masih ada di Hong Kong serta kebangkitan perempuan dalam melawannya.

Ketua International Migrant Alliance (IMA) dan juru bicara OBRR 2019, Eni Lestari mengatakan bahwa perempuan migran masih sangat rentan. “Perempuan migran tidak hanya mengalami pelecehan seksual dan fisik tapi juga menderita diskriminasi rasial”. Jelasnya.

“Kami menderita karena jam istirahat yang tidak memadai. Kami menderita karena jam kerja yang panjang. Kami menderita kekurangan makanan dan tidur di tempat yang tidak layak”

Eni menjelaskan, IMA bersama Badan Koordinasi Migran Asia (AMCB), Jaringan Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong (JBMI), dan Gabriela Hong Kong menginisiasi terselenggaranya OBR HK 2019, terus melawanan pelanggaran pelanggaran terhadap hak perempuan dan laki-laki, para migran dan penduduk setempat.
Menggalang dukungan dan memperkuat solidaritas guna mendorong reformasi kebijakan segera di Hong Kong seperti, mengkriminalisasi pembersihan jendela yang melanggar hukum, memberikan perlindungan sejati bagi para korban biaya agen yang berlebihan, menetapkan upah minimum sesuai standar upah layak dan reformasi aturan yang berkaitan dengan buruh migran lainnya.

“Tetapi yang lebih penting, kami juga membangun gerakan yang secara langsung melawan sistem yg memperjual belikan tenaga buruh migran dan mengekspornya dengan murah yang selama ini dilakukan pemerintah kita sendiri”. Tambah Lestari.

Akhirnya, Lestari mengatakan semua migrasi paksa dan ekspor tenaga kerja murah akan terus berlanjut selama pemerintah mengabdi kepada kebijakan neoliberal untuk mendukung ketamakan kapitalis global.

“Kami akan terus mendidik perempuan dan laki-laki, mengorganisir dan memobilisasi mereka untuk mengakhiri semua bentuk eksploitasi kapitalis. Gerakan kami akan terus tumbuh dan berkembang hingga akhirnya kami dapat mengakhiri perbudakan modern, ”pungkasnya.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *