Sinar Migran

70,6 persen pekerja rumah tangga asing di Hong Kong bekerja lebih dari 13 jam sehari

Pusat Penelitian Migrasi dan Mobilitas Universitas China mengumumkan hasil survey (13/02/2019) yang di buat untuk mempelajari tentang kondisi kerja lebih dari 380.000 pekerja rumah tangga (PRT) migran di Hong Kong.

Kuisioner tahun 2017 yang dilakukan di tempat tempat PRT migran Indonesia dan Filipina menghabiskan libur mingguan tersebut diikuti oleh dari 2.017 peserta.

Dari hasil survey ditemukan sebanyak
8,9 persen PRT migran bekerja lebih dari 16 jam sehari. 61,7 persen bekerja antara 13 sampai 16 jam sehari. Sisanya 26,5 persen bekerja 9 sampai 12 jam sehari.

Salah satu peneliti, Profesor Raees Begum Baig, mengatakan sifat pekerjaannya yang didalam rumah membuatnya sulit untuk menentukan jam kerja.
“Sangat sulit untuk mendefinisikan apa itu saat jam kerja dan mana yang tidak,” katanya.

Perempuan migran di Hong Kong pada 2017 bekerja rata-rata 43,3 jam seminggu. Menurut angka resmi, lebih rendah dari angka yang dilaporkan.

Hanya di bawah 4 persen dari pekerja rumah tangga mengatakan bahwa mereka telah dilecehkan secara fisik.

Tetapi Profesor Roger Chung Yat-nork, yang juga terlibat dalam penelitian, mengatakan angka sebenarnya bisa lebih tinggi.
“Beberapa orang akan menganggap pertanyaan ini terlalu sensitif,” katanya.
“Karena dianggapnya aman, beberapa orang mungkin menahan diri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya”.

Peneliti lain, Profesor Tong Yuying, mengatakan pekerja yang dilecehkan mungkin tidak dapat meninggalkan rumah selama liburan.

Menurut temuan tersebut, 5,9 persen pekerja mengatakan mereka tidak mendapatkan libur mingguan, pelangaran terhadap standar kontrak kerja. Sementara 20 persen mengatakan tidak mendapatkan 12 hari libur resmi.

Secara hukum, upah minimum untuk PRT migran tahun itu adalah HK $ 4.310. Standar gaji saat ini adalah HK $ 4.410.

Sekitar 8 persen yang diwawancarai mengatakan mereka dibayar rendah, sedangkan 6 persen dibayar lebih dari upah minimum.

Survey juga mengungkap sebanyak 43 persen yang memiliki kamar sendiri.

Para peneliti tersebut mendesak pemerintah untuk melindungi hak-hak PRT migran dengan lebih baik dan memastikan mereka mendapatkan jumlah liburan yang seharusnya mereka dapatkan.

Eman Villanueva, juru bicara Badan Koordinasi Migran Asia (AMCB) mengatakan jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kesehatan yang buruk.

Villanueva mengatakan lebih dari 120 pekerja migran meninggal di Hong Kong pada 2016 – sebagian besar dari penyakit yang berkaitan dengan stres seperti hipertensi.

Kondisi hidup yang buruk yang dihadapi banyak orang merupakan faktor utama, dengan beberapa pekerja terpaksa tidur di kamar mandi atau dapur, katanya.

“Mereka tidak memiliki privasi, dan sebagian besar pekerja perempuan akan merasa tidak nyaman dengan ini,” kata Villanueva.

Dia mendesak pemerintah untuk secara jelas mendefinisikan dalam kontrak standarnya apa jenis akomodasi yang harus disediakan majikan.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *