Sinar Migran

2 minggu di PT tanpa pelatihan, Atan berhasil ambil kembali uang potongan agen 8 juta

“Kak……uang overcharging saya dikembalikan! “ Begitu tulis Atan di grup WhatsApp memberi kabar terbaru. Tidak sampai setengah jam, ia kembali dari kantor agen Yat Yin Domestic Helper Agency di Tuen Mun.

Atan datang dengan senyum lebar, ia menyapa orang orang di bawah jembatan Mei Foo tempat berkumpul salah satu cabang organisasi ATKI Hong Kong. Tempat ia menjadi salah satu anggotanya.

Lima bulan sejak Atan (bukan nama sebenarnya) berkonsultasi ke Team para legal ATKI Mei Foo, ahirnya ia dapatkan kembali kelebihan biaya potongan agen sebesar HK$ 4420 atau setara dengan 8 juta rupiah (kurs 1810 rupiah per 1 HK$).

Awalnya kekesalan Atan kepada PPTKIS/ PT bernama Nurwira Cahaya selama berbulan bulan seperti tak berujung. Sejak ia diberi arahan oleh agen Hong Kong untuk mendatangi mitra bisnis agen di Malang Jawa Timur 2 minggu menjelang keberangkatannya ke Hong Kong pada tahun 2019. Istilah umum dikalangan teman teman BMI, Atan ‘numpang proses’ karena dia sendiri yang terhubung langsung dengan agen dan calon majikan. Ia datang ke PT untuk medical, menjalani uji kompetensi, dan ikut proses Pembekalan Ahir sebelum Pemberangkatan (PAP). Di dalam PT selama 2 minggu, tidak banyak yang di pelajari dari para guru. Selain ikut piket masak, bersih bersih dan lebih banyak jaga pintu gerbang. Tidak ada belajar bahasa, jaga bayi atau anak dan jaga orang tua dalam kelas.

Sehari menjelang terbang, Atan dihadapkan pada staff PT dan diminta menandatangani surat pernyataan bermaterai bahwa dia meminjam uang sebesar 8 juta rupiah untuk ‘living cost’ alasan lain yang staff PT jelaskan karena biaya keberangkatan yang seharusnya ditanggung majikan tidak cukup, jadi Atan menanggung kekurangannya dan harus dikembalikan dalam potongan agen HK$ 1013 dan HK$ 694 masing masing selama 6 bulan.

Apa yang dijelaskan staff PT membuat Atan sangat keberatan dan menolak. Pasalnya, dari awal proses ia membawa serta paspor yang masih aktif, di PT tinggal selama 2 minggu, dan tidak ada uang 8 juta yang diterima. Namun dengan penolakannya tersebut, Atan kemudian diancam visanya akan di cancel dan tidak akan di berangkatkan. Selain mengancam, Staff PT juga merendahkan martabat Atan dengan mengatakan ‘sampai kamu menyembah sekalipun, tidak akan saya berangkatkan’. Atan, kemudian berlalu dari ruang staff.

Esoknya dalam situasi masih berat ahirnya ia kembali ke kantor Staff dan terpaksa menandatangani surat pernyataan tersebut. Tahun berganti, Atan sudah bekerja di Hong Kong kekesalan dan keresahannya tidak begitu saja hilang. Ditambah lagi dengan cerita yang menimpa saudara dan teman temannya yang bernasib sama, mengantar ia kepada organisasi ATKI di Mei Foo untuk mencari solusi.

Pertama bertemu dibulan Juli dan berbagi cerita, ahirnya Atan memutuskan bergabung menjadi anggota ATKI. Sejak itu, banyak yang dibicarakan terkait potongan agen dan hak buruh migran di Hong Kong didalam grup organisasi. Karena terdapat potongan biaya yang berlebihan dalam kronologi yang sudah ditulis, team paralegal ATKI Mei Foo mendorong Atan untuk melapor ke pemerintah Indonesia.

Namun karena terkendala libur sebulan sekali dan tidak tentu, Atan mengadukan overcharging tersebut ke BP2MI lewat WhatsApp dan dan mendapat salinan potongan yang seharusnya sebesar Rp. 6.030.000,- . Baru ketika mendapat libur bulan November, Atan datang ke KJRI membawa berkas yang telah diarahkan team paralegal ATKI Mei Foo.

Pengaduan Atan awalnya dianggap bukan overcharging oleh bapak Erga, Konsul Ketenagakerjaan yang kebetulan langsung menerima Atan. Menurutnya, potongan sudah benar. Atan dianggap non ex, meski pernah bekerja di Hong Kong karena sudah pulang ke Indonesia lebih dari setahun. Atan sempat menjadi ragu.

Namun karena terus terkoneksi, team paralegal ATKI Mei Foo mengingatkan Atan untuk kembali fokus bukan karena sudah setahun lebih di Indonesia namun karena hanya tinggal 2 minggu di PT tanpa belajar di kelas, paspor bawa sendiri, dan pinjaman living cost sebesar 8 juta yang di klaim PT untuk menambal kekurangan biaya perjalanan Atan ke HK adalah tanggung jawab majikan, bukan dirinya.

Karena berbeda pendapat, Atan sempat menanyakan apakah pengaduan akan di proses?, bapak Erga mengiyakan. Setelah mencatat, berkas pengaduan dikembalikan lagi kepada Atan. Selepas dari KJRI menuju ke Mei Foo, Atan sempat ditelfon PT dan Agen yang tidak suka namanya diadukan ke KJRI, namun ahirnya mau mengembalikan uang kelebihan biaya potongan agen yang sudah penuhi selama 6 bulan. Selang seminggu, agen mengembalikan uang kelebihan yang hampir setara dengan gaji sebulan.

Lumayan bukan? Jangan enggan melindungi dan memperjuangkan hak diri. Buruh migran, bersatu, bergerak, berjuang ! ***

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *