Setahun Kematian Adelina Sau, Tenaganita Desak Malaysia Akui dan Lindungi PRT Migran Sebagai Pekerja

Berita
1

Kelompok Masyarakat Sipil Tenaganita mendesak pemerintah Malaysia mengambil langkah serius dalam melindungi buruh migran.

Glorene A Das, Direktur Eksekutif Tenaganita menyerukan agar ada pengetatan hukum
setelah kasus kekerasan terhadap buruh migran yang bekerja di negaranya menjadi berita utama dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam rilis yang di sampaikan dalam acara peringatan setahun meninggalnya Adelina Sau (12/02/2019), Tenaganita menyampaikan buruh migran tidak dilindungi seperti halnya pekerja di sektor lain sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan 1955 yang berlaku di Malaysia.

“Dampaknya, majikan cenderung merasa bebas menyiksa pekerjanya secara terus menerus tanpa takut berhadapan dengan hukum. Padahal perlakuan tersebut terkadang berakhir tragis seperti dalam kasus Adelina dan korban korban sebelumnya”.

Mengutip beberapa kasus kematian buruh migran, Glorene mengatakan itu karena majikan merasa seolah-olah memiliki pembantunya, sehingga mereka memperlakukan selayaknya budak.

“Kita sering mengetahui bahwa buruh migran tidak pernah diberikan hari libur per minggu, bersama dengan pelanggaran lain seperti menahan paspornya, pelecehan fisik, psikologis dan seksual”.

Glorene mengatakan ada sekitar 300.000 PRT migran di negara itu termasuk yang tidak berdokumen.
Tenaganita sendiri dalam lima tahun terahir telah menangani sekitar 2,000 kasus kekerasan dan perdagangan manusia. Pada tahun 2018 saja, Tenaganita menangani sekitar 200 kasus termasuk Adelina Sau.

Adelina Jemira Sau, buruh migran asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur mengalami penyiksaan dan kondisi kerja yang sangat buruk.
Dia tidur di garasi bersama anjing Rottweiler selama 2 bulan dan mengalami berbagai kekerasan.

Sehari setelah diselamatkan dari rumah majikannya di Taman Kota Permai, Penang dan dirawat di rumah sakit Bukit Mertajam, nyawa Adelina tidak tertolong (11/02/2018).

Adelina meninggal dengan luka di kepala, muka, tubuh dan anemia akut penyebab gagal fungsi organ.

Glorene menjelaskan pentingnya mengingat kematian Adelina agar menjadikannya sebagai dasar memperkuat aturan perlindungan dan perundang-undangan di Malaysia.

Dia mengatakan hanya ketika hak-hak pekerja rumah tangga dilindungi oleh undang-undang dan diakui sebagai pekerja, maka majikan, agen, warga Malaysia dan Indonesia secara keseluruhan, akan menaruh rasa hormat dan menjaga martabat pekerja rumah tangga.

“Kami tidak ingin melihat lagi kematian pekerja rumah tangga yang tidak bersalah di Malaysia.”

Please follow and like us:
1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita
Diputus Kontrak Karena Menjalankan Ibadah, PMI Tuntut Majikan

Seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia menggugat mantan majikannya atas diskriminasi yang dialaminya setelah ia dilarang melakukan ibadah dan mengenakan jilbab serta pakaian Muslim dan salat pada hari kerjanya. PMI yang bernama Dwi Lestari juga menuntut ganti rugi lebih dari HK$250.000. Seperti yang dimuat dalam koran online South China Morning …

Aksi
Aksi Tuntutan Kenaikan Gaji dan Perbaikan Akomodasi PMI di Hong Kong

Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong telah menggelar aksi pada hari Minggu, 03 Agustus 2023 menuntut kenaikan gaji dan perbaikan akomodasi. Tuntutan ini muncul sebagai respons terhadap kondisi kerja yang sulit dan biaya hidup yang tinggi di negara tersebut. Aksi diikuti oleh Indonesian Migrant Workers Union ( IMWU) , …

Buruh Migran
Pres Rilis: GAMMI Hong Kong Gelar Kongres ke–15

Ahad, 21 Mei 2023 Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakaatuhu Gabungan Migran Muslim Indonesia-Hong Kong (GAMMI) menggelar Kongres ke-15 pada Minggu, 21 Mei 2023, dengan tema “Mari perkuat GAMMI dengan memperbanyak kerja pendidikan, menambah keanggotaan, memperluas kerja jaringan dan silaturahmi untuk memperkuat perjuangan, mempertahankan hak-hak kita sebagai Muslimah dan Migran Indonesia”. Kongres merupakan …