Kolaborasi ATKI dan PILAR Hong Kong, galang donasi kemanusiaan dengan mengamen

Asosiasi Buruh Migran Indonesia (ATKI) dan Persatuan BMI Tolak Overcharging (PILAR) Hong Kong kembali berkolaborasi galang donasi kemanusiaan dengan mengamen.

Dengan berbekal dua gitar akustik, kecrek dan poster Maria dan Wiguna, team kesenian dari dua organisasi tersebut keliling mendatangi kerumunan BMI yang tengah santai berlibur di Victoria park, Minggu (12/05/2019).

“Aksi peduli kemanusiaan ini menjadi salah satu bagian dari rangkaian serve the people (melayani rakyat-red) Jaringan Buruh Migran Indonesia atau dikenal dengan JBMI-HK” jelas Sailo kepada Sinar Migran.

Menurutnya, ATKI sudah melakukan pelayanan sejak berdiri tahun 2000 dan akan terus terlibat aktif bersama JBMI-HK memberikan pelayanan yang dibutuhkan buruh migran dan keluarganya sebagai bagian dari rakyat. Mulai dari memperkenalkan dan memperjuangkan hak buruh migran selama di Hong Kong, melatih dan menempa keberanian dalam membela hak dasar anggota maupun BMI disekitar.

Adapun penggalangan dana yang terkumpul sebanyak HK$ 3,975 ditujukan kepada Maria, Wiguna dan Shelter Bethune House.

Maria, adalah mantan BMI berusia 31 tahun asal Lampung. Ia adalah orang tua tunggu dari 1 anak umur 13 tahun.
Demi merubah nasib, pertengahan Januari 2019 ia menekatkan dirinya menjadi buruh migran tujuan Singapura, meninggalkan anak semata wayang dan keluarganya.

Melalui PT. Wahana Karya Suplaindo, Maria diproses selama satu bulan lebih dua minggu. Setelah melalui berbagai prosedur dan medikal dinyatakan fit, Maria terbang tanggal 15 Februari. Sebelum mulai bekerja pada majikan, Maria mendapat pembekalan di MOM dan ditampung di Agen di daerah Bedok terlebih dahulu.

Selama di Agen berinisial Mam AD, Maria hanya diberi satu kali makan nasi, dengan lauk mie instan yang dibagi dua dengan pembantu lain di rumah Mam AD. Asisten rumah tangga tersebut menjadi temannya selama beberapa hari di rumah Agen. Maria bangun pukul setengah lima pagi untuk mengantar anjing jalan pagi sampai matahari terbit, setelah itu memasak dan mengantar cucu Agen ke sekolah dan pekerjaan lainnnya. Ia baru boleh tidur pada pukul satu malam.
Padatnya aktifitas dan kurang istirahat membuatnya merasa tidak enak badan. Tanggal 17 Ia lalu menceritakan kondisinya´╝înamun Agen tidak dipercaya, menuduhnya berbohong dan malas bekerja. Dari situ Agen semakin menambah pekerjaan kepada Maria, mulai dengan membersihkan kantor, penutup sofa, masak, sampai mendampingi kemanapun Agen pergi.

18 Februari 2019, dalam kondisi sakit Maria di jemput majikan. Meski badan panas dingin, mata mulai terasa memanas, perih, kepala pusing, perut mual ia bekerja membersihkan rumah majikan barunya.

Malam harinya sekitar pukul tujuh majikan menyadari keadan badan maria yang melemah, tiba-tiba maria disuruh berkemas dan kembali ke Agen.

Menurut Maria keadaan rumah majikan ketika Maria datang sangatlah kotor. Kain-kain bekas pembersih dapur, pembersih BAB, pembersih kamar, dan kain-kain kotor lainnya juga keadaan rumah yang jauh dari kata layak bersih sudah Maria bersihkan seharian penuh.

Maria diam saja ketika di kembalikan ke Agen karena badannya benar-benar sangat lemah dan tidak sanggup lagi bekerja.

Dengan marah dan caci maki Agen membawa Maria ke klinik Healthy Clinic Center di daerah Bedok. Maria demam, suhu tubuhnya waktu itu mencapai 44┬░ celsius, namun ia hanya diberi 4 macam obat yang Maria sendiri tidak dikasih tau bahwa dosisnya sangat tinggi.

Malam hari minum obat keesokan paginya mata dan mulut Maria bengkak disertai timbul bintik-bintik hitam berisi air dan berasa perih.

Maria memberi tahu Agen bahwa Maria alergi obat, namun Agen tidak mempercayainya dan lagi-lagi Agen menuduhnya berbohong. Dua kali meminum obat tersebut, tubuh Maria semakin perih dan penuh luka.

Sempat putus asa, Maria mengutarakan keinginannya untuk kembali saja ke Indonesia. Sebagai syarat Agen dan PT meminta uang sebanyak SGD 5000 atau sekitar lebih dari Rp 50,000,000 sesuai kurs yang berlaku rata rata dibulan Februari.

Maria berusaha menghubungi orang-orang terdekat di Indonesia. karena dari awal dilarang membawa handphone oleh agen dan majikan, Maria tidak mempunyai handphone sama sekali selama bekerja di Singapura.

Pernyataan alergi obat yang diderita Maria ahirnya dikuatkan oleh seorang majikan yang datang ke Agen.
Maria di bawa ke klinik dokter Lee. Dari diagnosa dokter, Maria terkena Steven Johnson Syndrome, lalu dokter memberikan surat rujukan ke Changi Hospital Singapore. Begitu sampai Rumah sakit, Maria langsung di suruh rawat inap dan di infus. Sejak saat itu, Maria tidak pernah lagi melihat Agennya.

Parahnya penyakit yang diderita Maria beberapa kali ia batuk berdarah, kulit melepuh dan mulai kabur penglihatan. Hari ke tujuh dirawat ia dipindahkan ke Singapore General Hospital di karenakan alat medis di Changi tidak memadai. Sampai disana is dibawa ke ruang isolasi, karena seluruh badannya diperban dari kepala sampai kaki layaknya mumi. Di tangan kanan dan tangan kiri tertancap 7 buah selang yang masing-masing memiliki fungsi sendiri-sendiri, di hidungnya ada 2 buah selang, di lehernya di lilitkan beberapa kabel untuk mengecek semua tanda vital di tubuhnya. Setiap hari perbanya dibuka dan diganti. Meski sudah dilakukan pembersihan dan perawatan pada mata, dokter ahirnya memutuskan melakukan operasi selaput membran mata yang telah rusak sampai dua kali. Operasi pencangkokan membran yang pertama meleleh akibat tubuh tidak bisa lagi memproduksi cairan pada mata.

Maria tidak bisa makan karena mulutnya terbakar, dokter mengatakan butuh waktu 3 bulan untuk mengembalikan keadaan mulut, rongga mulut dan lidah agar bisa merasakan makanan dan di gantikan dengan kulit yang baru.
Matanya pada akhirnya benar-benar tidak bisa melihat. Ketika sudah hampir 1 bulan berada di rumah sakit Singapore General Hospital dan sudah bisa mengenakan baju, dokter kulit menyatakan Maria boleh kembali ke Indonesia. Sementara dokter mata meminta agar ada operasi selaput membran kedua untuk penambahan kontak lensa dan plastik.

Setelah itu Maria diperbolehkan kembali ke Indonesia oleh tim dokter mata tetapi dengan catatan Maria harus melanjutkan pengobatan mata di Indonesia. Sebagai pilihan adalah Jakarta dan Yogyakarta. Maria dan keluarganya memilih Yogyakarta menimbang biaya hidup yang tidak terlalu tinggi dibanding Jakarta.

Sesampainya di Indonesia Maria langsung ke rumah sakit Sardjito, selama 2 minggu periksa di dokter mata yang sama, tiba-tiba dokter menyatakan menyerah dengan keadaan matanya padahal ia tidak menerima tindakan apapun. Setelah kejadian itu keluarga memutuskan untuk ke rumah sakit Bethesda dokter akan melakukan tiga tindakan agar Maria bisa melihat kembali. Pertama pembersihan mata, pengangkatan plastik, dan selaput membran.

Tak cukup sampai disitu, Maria masih harus kontrol rutin, menunggu antrian selama 3 bulan untuk mendapatkan kornea mata dari Nepal dan mencari uang until pengobatan dirinya, sebab penyakit yang diderita tersebut tidak ditanggung oleh BPJS.

Penggalangan dana juga di peruntukkan kepada Wiguna, remaja berusia 26 tahun ini adalah anak tani miskin, pimpinan AGRA ranting Karangsari, kecamatan Pakenjeng, kabupaten Garut.

Wiguna mengalami kecelakaan motor pada bulan Januari 2017.
Tempurung kepala retak dan harus diangkat.
Puskesmas Cibalong tidak menyanggupi pengobatan pasien sehingga harus dirujuk ke RS Slamet di Garut. RS Slamet juga tidak mampu menangani sehingga dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung/RSHS.

Wiguna mendapatkan perawatan selama 15 hari dengan menggunakan KIS fasilitas kelas III di RSHS.

Setelah melakukan CT scan dan tes laboratorium baru is bisa menjalani operasi pengangkatan tempurung kepala bagian depan dan perawatan pasca operasi selama tiga hari. Operasi berjalan selam 8 jam yang dipimpin dr. Josef.

Wiguna di perbolehkan pulang dan dijadwalkan kembali melakukan pemasangan tempurung kepala setelah enam bulan sejak operasi. Namun Karena terkendala biaya, Wiguna hanya sekali datang ke rumah sakit until membuka jahitan, setelah itu ia baru bisa kembali lagi ke rumah sakit setelah dua tahunan berlalu.

Januari 2019 Wiguna bersama keluarga mendatangi rumah sakit dan mendaftar untuk operasi kembali.
Dengan berbekal tiket antrean nomor 130, Wiguna bertahan di Bandung, setengah hari perjalanan mobil dari Gresik kampung halamannya, namun hingga akhir Maret ia belum mendapatkan tindakan.

Sementara bekal uang yang dibawa untuk biaya operasi semakin menipis, Wiguna dan keluarganya telah menjual sawah, kolam ikan dan berhutang untuk menutupi biaya operasi dan bekal perjalanan. Wiguna dan keluarga juga berencana akan menjual tanah seluas 7 are (700 m2) seharga 16 juta, namun belum ada yang berminat karena kondisi warga yang lain juga dalam keadaan kekurangan.

Bagi pembaca Sinar Migran yang berkenan menyisihkan rezekinya untuk sedikit meringankan beban Maria dan Wiguna bisa menghubungi kontak organisasi sebagai berikut:

ATKI Hong Kong Sailo Telepon: 9547 6589
PILAR Hong Kong Leni Telepon: 9851 0633

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *